“Dampak positif pandemic COVID 19 pada Pendidikan di Indonesia”

Oleh admin ::

1020 views ::

13 Oct 2021

“Dampak positif pandemic COVID 19 pada Pendidikan di Indonesia”

Nama         : Tugiman, S.Pd.Si.

Judul Artikel : Dampak positif pandemi COVID-19 bagi Pendidikan di Indonesia

Tema Artikel : Pendidikan Indonesia di Masa Pandemi COVID-19

Mata Pelajaran : Matematika

Kontak HP         : 085602162922

Alamat Sekolah : Jl.Deresan III No.24 Santren, Caturtunggal, Depok, Sleman


“Dampak Positif Pandemic COVID 19 Pada Pendidikan di Indonesia”


            Kasus positif COVID-19 di Indonesia pertama kali dideteksi pada tanggal 2 Maret 2020, ketika dua orang terkonfirmasi tertular dari seorang warga negara Jepang. Pada tanggal 9 April 2020, pandemi sudah menyebar ke 34 provinsi dengan DKI Jakarta, Jawa Timur dan Jawa Barat sebagai provinsi paling terpapar virus corona di Indonesia. . Senin, 13 April 2020 Presiden Joko Widodo secara resmi menetapkan COVID-19 sebagai bencana nasional. Penetapan itu dinyatakan melalui Keputusan Presiden (Keppres) Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2020 tentang Penetapan Bencana Non-Alam Penyebaran COVID-19 Sebagai Bencana Nasional.  

            Pendidikan di Indonesia mengalami dampak positif dan negative dengan adanya adanya wabah pandemic COVID-19. Dampak dirasakan pada kebijakan-kebijakan kemendikbud , pemerintah, misalnya penghapusan UNBK, Pelaksanaan KBM yang dilaksanakan secara tidak tatap muka, Kelonggaran penggunaan dana BOS, dan masih banyak lagi. Tentunya semua itu berpengaruh dengan arah pendidikan siswa siswa dan nasip pendidikan di masa depan. 

            Kita harus optimis dan yakin bahwa pendidikan akan lebih maju kedepannya, dengan adanya pandemi ini penulis mencoba memberikan aura positif yaitu “dampak positif adanya COVID 19 pada pendidikan Indonesia”. Harapan penulis supaya kita optimis dapat meningkatkan kualitas pendidikan dengan menaikkan rangking PISA, menaikkan kemampuan penggunakan ICT guru, orang tua dan siswa. Adapun beberapa dampak positif adanya pandemic COVID-19 pada pendidikan di Indonesia adalah sebagai berikut;

            Pertama, adanya gerakan guru berbagi. Kemendikbud meluncurkan program guru berbagi, setelah sebelumnya memberikan keputusan bahsa pelaksanaan KBM harus dilaksanakan Dengan BDR (Belajar dari Ruman). Guru berbagi adalah ruang gotong royong bagi guru dan penggerak Pendidikan untuk saling berbagi praktik dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) di masa pandemi. Selain itu, guru bisa menemukan referensi dan artikel tentang pembelajaran jarak jauh/daring serta belajar bersama rekan guru lain. Guru satu sama bisa bila saling berbagi file yang bisa diunduh secara gratis oleh semua guru, semua ini difasilitasi oleh kemendikbud. Kemendikbud juga memberi penghargaan kepada guru guru yang aktif dalam memberikan/membagikan praktik, materi maupun rencana pembelajaran (RPP). Belajar dari rumah adalah upaya kita bersama untuk memutus penyebarannya. Namun, guru-guru yang merdeka belajar tetap berkomitmen memberikan pembelajaran yang berkualitas dan bermakna bagi pelajar Indonesia. Dengan ada guru berbagi menjadi point positif pendidikan Indonesia umtuk selalu saling berbagi bergotong royong untuk menghadapi pandemi khususnya pendidikan anak-anak Indonesia.  

            Kedua, Gerakan “Guru Belajar Seri Masa Pandemi Covid-19”. Ditengah adanya wabah COVID 19 muncul sebuah pergerakan guru belajar khususnya berhubungan Dengan ICT, memanfaatkan ICT untuk kegiatan belajar mengajar yaitu sistem nya, media pembelajarannya, vieo pembelajaran, dan lainnya. Pergerakan guru dalam belajar ini sangat besar dan massif kemudian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) meluncurkan Program “Guru Belajar Seri Masa Pandemi Covid-19”,   pandemi Covid-19 dunia pendidikan dihadapkan banyak tantangan dari kondisi belajar, metode belajar sampai operasional. Ditjen GTK mengatakan untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut Dirjen GTK sudah melakukan langkah-langkah. Program guru pembelajar ini hadir untuk memberikan pelayanan kepada guru di seluruh Indonesia dalam menghadapi pembelajaran di masa pandemi Covid-19 yang tentunya perlu untuk terus belajar agar bisa memberikan solusi dari permasalahan yang sedang kita hadapi. Tujuan dari Program “Guru Belajar Seri Masa Pandemi Covid-19” Pertama, Meningkatkan kemampuan guru dalam merancang pembelajaran jarak jauh dengan penyederhanaan beban kurikulum. Kedua, Peningkatan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran jarak jauh yang melibatkan murid.“Ketiga peningkatan kemampuan guru dalam melakukan asesmen pembelajaran jarak jauh yang berdampak pada kualitas pembelajaran dan terakhir peningkatan kemampuan guru dalam menggunakan teknologi untuk pembelajaran jarak jauh secara efektif,” jelasnya menambahkan.

            Guru pembelajar diharapkan dapat memajukan pendidikan Indonesia dengan menciptakan pembelajaran yang berpusat pada murid dan menggerakkan ekosistem pendidikan yang lebih baik melalui Program Guru pembelajar. (Dirjen GTK) Iwan Syahril “Bergotong royong dengan semua pemangku kepentingan untuk mencetak SDM unggul adalah kunci transformasi pendidikan untuk mencapai visi”

            Ketiga, Hasil karya guru menaik drastis. Ulang tahun Forum Guru Sleman Menulis (FGSM) ke-3 dimeriahkan dengan peluncuran 40 buku karya guru-guru PAUD, TK, SD/MI, maupun SMP/MTs dan Workshop Kisah Inspiratif (true story).  Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Ery Widaryana mengapresiasi kreativitas dan inovasi para guru dalam mengembangkan keprofesionalnya.   selama masa pandemic banyak guru yang menghasilkan karya dengan jumlah yang naik drastic misalnya; video pembelajran yang di upload di youtube, menulis bahan ajar/modul untuk mengajar, memanfaatkan berbagai aplikasi untuk membuat asyik pembelajaran, banyak forum grup diskusi tenyang media pembelajran, dan gerakan guru belajar yang gelombangnya sangat besar. Semua hal itu dilakukan karena kebutuhan dan harus dilakukan dengan keadaan KBM secara tidak tatap muka/ daring.  Guru dituntut melek teknologi Tanpa disadari, pandemi Covid-19 ini membawa dampak tersendiri. Yakni masyarakat mulai melek terhadap teknologi. Secara khusus pada siswa juga orang tua, pembelajaran tatap muka kini diganti dengan pembelajaran daring atau online. Tentu pembelajaran ini mengharuskan siswa dan orang tua dekat dengan teknologi terlebih guru harus lebih lagi melek/paham akan teknologi. Guru diharuskan memahami dalam penggunaan teknologi sehingga gerakan belajar guru belajar akan massif di Indonesia. 

            Beberapa langkah lebih maju dalam hal penggunaan ICT meningkatkan peringkat PISA Pendidikan bisa beberapa langkah lebih maju kedepan, yang seharusnya tahun 2024 bisa sekarang dilakukan, seperti Pembelajaran secara daring, sistem pembelajaran jarak jauh, dan lainnya. Peringkat (Programme for International Student Assessment) PISA Indonesia terakhir adalah 70 dari 78 negara yang mengikuti tes PISA Dengan nilai rerata  Indonesia 396. Rata-rata kemampuan sains dari negara OECD: 489, masih dibawah rataa-rata.  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim menyampaikan bahwa hasil studi PISA 2018 yang dirilis serentak pada hari Selasa, 3 Desember 2019, merupakan perspektif yang bagus bagi pemajuan kualitas pendidikan di Indonesia. Akses makin luas saatnya tingkatkan kualitas, pernyataan menteri pendidikan nasional. Sehingga optimis peringkat PISA akan bisa naik untuk tes berikutnya. Siswa, orang tua dan guru melek teknologi dan melek literasi.